
Globalisasi dan Pancasila: Mengapa Peran Setya Kita Pancasila (SKP) Semakin Penting?
Golkarinus Ubra,S.Pd,CPSE
Ketua DPD SKP Kota Tual
Tual Mediasaiber. Globalisasi telah menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia modern. Perkembangan teknologi informasi, komunikasi, transportasi, dan ekonomi telah menghubungkan masyarakat dunia dalam satu jaringan yang saling bergantung. Informasi dari berbagai negara dapat diakses dalam hitungan detik, budaya asing dapat dengan mudah masuk melalui media sosial, dan interaksi antarbangsa menjadi semakin intens. Globalisasi membawa banyak manfaat, seperti kemudahan memperoleh ilmu pengetahuan, peningkatan kerja sama internasional, serta peluang ekonomi yang lebih luas. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, globalisasi juga menghadirkan tantangan serius bagi identitas, budaya, dan nilai-nilai kebangsaan suatu negara, termasuk Indonesia.
Sebagai bangsa yang memiliki keberagaman budaya, suku, agama, dan bahasa, Indonesia membutuhkan fondasi yang kuat untuk menjaga persatuan sekaligus menghadapi perubahan zaman. Fondasi tersebut adalah Pancasila. Sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa, Pancasila tidak hanya menjadi pedoman dalam penyelenggaraan negara, tetapi juga menjadi nilai dasar yang mengatur hubungan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat Indonesia.
Dalam konteks globalisasi yang semakin kompleks, peran organisasi dan gerakan yang berkomitmen pada penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi semakin penting. Salah satunya adalah Setya Kita Pancasila (SKP).
Keberadaan SKP menjadi relevan karena globalisasi tidak hanya membawa arus informasi dan kemajuan teknologi, tetapi juga membawa perubahan pola pikir, gaya hidup, dan sistem nilai. Banyak nilai positif yang dapat diadopsi dari perkembangan global, seperti etos kerja, inovasi, disiplin, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan. Namun, tidak semua pengaruh global sejalan dengan karakter bangsa Indonesia. Budaya individualisme, hedonisme, konsumerisme, serta menurunnya rasa solidaritas sosial menjadi fenomena yang semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, SKP memiliki peran strategis sebagai pengingat bahwa modernitas tidak boleh membuat bangsa Indonesia kehilangan identitasnya. Kemajuan harus dibangun di atas fondasi nilai-nilai Pancasila. Tanpa fondasi tersebut, globalisasi dapat mengikis rasa kebangsaan dan melemahkan karakter nasional yang selama ini menjadi kekuatan Indonesia.
Salah satu alasan mengapa peran SKP semakin penting adalah karena adanya tantangan krisis identitas di kalangan generasi muda. Saat ini, generasi muda hidup dalam lingkungan digital yang memungkinkan mereka terhubung dengan budaya dunia setiap saat. Mereka dapat mengakses berbagai tren, gaya hidup, dan pemikiran global melalui media sosial. Kondisi ini tentu memberikan peluang besar untuk belajar dan berkembang. Namun, pada saat yang sama, terdapat risiko lunturnya pemahaman terhadap sejarah, budaya, dan nilai-nilai kebangsaan.
Tidak sedikit generasi muda yang lebih mengenal tokoh-tokoh budaya populer asing dibandingkan pahlawan nasionalnya sendiri. Banyak yang lebih memahami tren global daripada nilai gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Dalam situasi seperti ini, SKP dapat menjadi wadah yang menjembatani kebutuhan generasi muda untuk tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar kebangsaannya.
Melalui pendidikan, diskusi, pelatihan, dan kegiatan sosial, SKP dapat membantu membangun kesadaran bahwa menjadi warga dunia tidak berarti harus kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Peran penting lainnya adalah dalam memperkuat semangat persatuan nasional. Globalisasi sering kali membawa berbagai isu yang dapat memicu polarisasi dalam masyarakat.
Kemudahan akses informasi tidak selalu diiringi dengan kemampuan masyarakat untuk menyaring informasi secara kritis. Akibatnya, hoaks, ujaran kebencian, dan informasi yang bersifat provokatif dapat dengan mudah menyebar dan memengaruhi kehidupan sosial.
Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial sering menjadi arena perdebatan yang tajam dan memecah belah masyarakat. Perbedaan pandangan politik, agama, maupun identitas sosial terkadang berkembang menjadi konflik yang mengancam persatuan bangsa. Di sinilah nilai Persatuan Indonesia yang terkandung dalam sila ketiga Pancasila menjadi sangat penting. SKP memiliki peran untuk menghidupkan kembali semangat persaudaraan, dialog, dan toleransi sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang, SKP dapat menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat kohesi sosial. Persatuan yang dibangun atas dasar penghormatan terhadap keberagaman merupakan modal utama Indonesia dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Selain itu, SKP juga memiliki peran penting dalam membangun literasi digital berbasis nilai Pancasila. Era digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan belajar. Namun, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru, seperti penyebaran informasi palsu, radikalisme digital, perundungan siber, hingga penurunan etika dalam berinteraksi di ruang virtual.
Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan menggunakan teknologi. Literasi digital harus disertai dengan kemampuan berpikir kritis, sikap bertanggung jawab, dan kesadaran moral. Nilai-nilai Pancasila dapat menjadi pedoman dalam membentuk budaya digital yang sehat.
Melalui program edukasi dan kampanye digital, SKP dapat membantu masyarakat memahami bahwa kebebasan berekspresi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan penghormatan terhadap sesama.
Dalam bidang ekonomi, globalisasi membuka peluang besar bagi Indonesia untuk bersaing di tingkat internasional.
Namun, globalisasi juga dapat memperlebar kesenjangan sosial apabila manfaat pembangunan hanya dinikmati oleh sebagian kelompok masyarakat. Oleh karena itu, prinsip keadilan sosial yang terkandung dalam sila kelima Pancasila harus tetap menjadi landasan pembangunan nasional.
SKP dapat berperan dalam mendorong kesadaran bahwa pertumbuhan ekonomi harus diimbangi dengan pemerataan kesejahteraan. Semangat gotong royong dan solidaritas sosial perlu terus dipelihara agar pembangunan tidak meninggalkan kelompok masyarakat yang rentan.
Dalam konteks ini, SKP dapat menjadi mitra masyarakat dan pemerintah dalam mengembangkan berbagai program pemberdayaan yang berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Tidak kalah penting, SKP juga berperan dalam menjaga dan melestarikan budaya bangsa. Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan budaya luar biasa. Namun, globalisasi sering kali mendorong masyarakat untuk lebih mengagumi budaya luar daripada budaya sendiri. Jika kondisi ini terus berlangsung, warisan budaya bangsa dapat kehilangan relevansinya di mata generasi muda.
Melalui berbagai kegiatan budaya, pendidikan, dan promosi nilai-nilai lokal, SKP dapat membantu menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas nasional. Pelestarian budaya bukan berarti menolak pengaruh luar, melainkan memastikan bahwa budaya lokal tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. Bangsa yang menghargai budayanya akan memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat dalam berinteraksi dengan dunia global.
Pada akhirnya, globalisasi bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan realitas yang harus dihadapi dengan kesiapan dan kebijaksanaan. Indonesia tidak dapat menutup diri dari perkembangan dunia. Sebaliknya, Indonesia harus mampu mengambil manfaat dari globalisasi sambil tetap mempertahankan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupannya. Dalam konteks tersebut, Pancasila menjadi kompas moral yang menjaga arah perjalanan bangsa.
Oleh karena itu, peran Setya Kita Pancasila semakin penting di era globalisasi. SKP hadir sebagai penggerak yang menghubungkan nilai-nilai luhur Pancasila dengan tantangan kehidupan modern. Melalui penguatan karakter, pendidikan kebangsaan, literasi digital, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat, SKP membantu memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi bangsa yang maju tanpa kehilangan jati dirinya.
Di tengah derasnya arus perubahan global, bangsa Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan beradaptasi. Indonesia membutuhkan karakter yang kuat, identitas yang jelas, dan semangat persatuan yang kokoh. Semua itu dapat ditemukan dalam nilai-nilai Pancasila. Karena itulah, keberadaan dan peran Setya Kita Pancasila bukan hanya penting, tetapi juga menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga masa depan bangsa yang berdaulat, berkepribadian, dan bermartabat di tengah pergaulan dunia.

