
Oleh : Golkarianus Ubra,S.Pd,CPSE
Guru SMA Negeri 1 Tual
Tual Mediasaiber. Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia. Hakikat pendidikan bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan dari guru kepada peserta didik, melainkan membentuk manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang menghargai martabat manusia, mengembangkan potensi peserta didik secara utuh, serta membentuk karakter yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. Konsep inilah yang dikenal sebagai pendidikan humanis.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, pendidikan sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan. Orientasi pendidikan yang terlalu berfokus pada nilai akademik, persaingan, dan capaian kognitif terkadang membuat aspek kemanusiaan dalam pendidikan menjadi terabaikan. Banyak sekolah lebih menekankan hasil ujian dibandingkan pembentukan karakter, empati, dan kepedulian sosial. Akibatnya, muncul berbagai persoalan seperti perundungan, kekerasan di lingkungan sekolah, menurunnya rasa hormat kepada guru dan orang tua, serta rendahnya kepedulian terhadap sesama.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pendidikan modern memerlukan fondasi nilai yang mampu mengembalikan hakikat pendidikan sebagai proses pembentukan manusia yang beradab. Dalam konteks masyarakat Kei di Maluku Tenggara, nilai-nilai yang terkandung dalam Hukum Adat Larvul Ngabal memiliki relevansi yang sangat kuat dalam membangun pendidikan yang humanis.
Hukum Adat Larvul Ngabal merupakan hukum adat yang menjadi pedoman hidup masyarakat Kei selama berabad-abad. Hukum adat ini tidak hanya mengatur tata kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral yang menjunjung tinggi martabat manusia, keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial. Dalam perspektif pendidikan, Hukum Adat Larvul Ngabal dapat dipandang sebagai sumber kearifan lokal yang mengajarkan prinsip-prinsip pendidikan humanis jauh sebelum konsep tersebut berkembang dalam dunia pendidikan modern.
Salah satu nilai utama dalam Hukum Adat Larvul Ngabal adalah penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia.
Dalam kehidupan masyarakat Kei, setiap individu dipandang sebagai pribadi yang memiliki nilai dan kehormatan yang harus dihormati. Tidak seorang pun boleh direndahkan, diperlakukan secara tidak adil, atau kehilangan hak-haknya sebagai manusia.
Nilai ini sangat relevan dengan dunia pendidikan. Pendidikan humanis menempatkan peserta didik sebagai subjek yang harus dihargai, bukan sekadar objek pembelajaran. Setiap anak memiliki potensi, kemampuan, dan karakter yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pendidikan harus memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk berkembang sesuai bakat dan kemampuannya.
Dalam praktiknya, penghormatan terhadap martabat manusia dapat diwujudkan melalui hubungan yang sehat antara guru dan peserta didik. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, sahabat, dan motivator yang membantu siswa menemukan potensi terbaik dalam dirinya. Ketika guru memperlakukan peserta didik dengan hormat dan penuh empati, maka proses pendidikan akan berlangsung lebih manusiawi dan bermakna.
Selain penghormatan terhadap manusia, Hukum Adat Larvul Ngabal juga mengajarkan pentingnya persaudaraan dan solidaritas sosial. Filosofi “Ain ni Ain” yang berarti “satu rasa, satu milik” merupakan salah satu nilai fundamental dalam kehidupan masyarakat Kei. Filosofi ini mengandung makna bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri dan harus saling mendukung dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai persaudaraan ini sangat penting dalam dunia pendidikan saat ini. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat membangun hubungan sosial yang sehat. Pendidikan humanis mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang tidak boleh dicapai dengan menjatuhkan orang lain. Sebaliknya, keberhasilan harus dibangun melalui kerja sama, saling menghargai, dan semangat gotong royong.
Di era digital, nilai persaudaraan semakin penting karena banyak generasi muda menghadapi tantangan berupa individualisme dan berkurangnya interaksi sosial yang berkualitas. Kehadiran media sosial memang memudahkan komunikasi, tetapi sering kali juga menciptakan jarak emosional dalam hubungan antarmanusia. Oleh karena itu, nilai kebersamaan yang diajarkan dalam Hukum Adat Larvul Ngabal dapat menjadi fondasi dalam membangun budaya sekolah yang inklusif dan penuh kepedulian.
Pendidikan humanis dalam perspektif Hukum Adat Larvul Ngabal juga menekankan pentingnya tanggung jawab. Dalam masyarakat Kei, setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Tanggung jawab bukan hanya kewajiban pribadi, tetapi bagian dari komitmen untuk menjaga keharmonisan kehidupan bersama.
Dalam dunia pendidikan, nilai tanggung jawab perlu ditanamkan sejak dini kepada peserta didik. Siswa tidak hanya diajarkan untuk menyelesaikan tugas sekolah, tetapi juga memahami konsekuensi dari setiap tindakan yang mereka lakukan. Pendidikan yang menumbuhkan rasa tanggung jawab akan melahirkan generasi yang disiplin, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Nilai lain yang sangat penting dalam Hukum Adat Larvul Ngabal adalah keadilan. Hukum adat Kei mengajarkan bahwa setiap persoalan harus diselesaikan secara adil dan bijaksana demi menjaga keseimbangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks pendidikan, keadilan berarti memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh peserta didik untuk berkembang dan memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas.
Pendidikan humanis tidak boleh membedakan peserta didik berdasarkan latar belakang ekonomi, sosial, budaya, maupun kemampuan akademik. Setiap anak berhak mendapatkan penghargaan dan kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik. Ketika nilai keadilan diterapkan dalam pendidikan, maka sekolah akan menjadi tempat yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi semua peserta didik.
Relevansi Hukum Larvul Adat Ngabal bagi pendidikan semakin kuat ketika dunia menghadapi berbagai tantangan moral akibat globalisasi. Kemajuan teknologi membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan berbagai persoalan seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, kekerasan digital, dan menurunnya etika dalam berkomunikasi. Dalam situasi seperti ini, pendidikan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan kemampuan teknologi, tetapi juga harus membangun karakter yang kuat.
Nilai-nilai Hukum Adat Larvul Ngabal dapat menjadi benteng moral bagi generasi muda dalam menghadapi pengaruh negatif globalisasi. Melalui pendidikan yang berakar pada budaya lokal, peserta didik dapat memahami bahwa kemajuan teknologi harus digunakan untuk tujuan yang positif dan bermanfaat bagi sesama.
Peran guru sangat penting dalam mengintegrasikan nilai-nilai Hukum Adat Larvul Ngabal ke dalam proses pembelajaran. Guru dapat mengaitkan materi pelajaran dengan kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat Kei. Pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Selain itu, guru juga harus menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan persaudaraan di lingkungan sekolah.
Keluarga dan masyarakat adat juga memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung pendidikan humanis.
Pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Orang tua perlu menanamkan nilai-nilai moral sejak dini melalui teladan, pembiasaan, dan keterlibatan anak dalam kehidupan sosial masyarakat.
Tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, menegaskan bahwa pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat.
Pemikiran ini sejalan dengan nilai-nilai Hukum Adat Larvul Ngabal yang menempatkan manusia sebagai pusat perhatian dalam proses pendidikan.
Pada akhirnya, pendidikan humanis dalam nilai-nilai Hukum Adat Larvul Ngabal menawarkan sebuah pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemanusiaan. Nilai penghormatan terhadap martabat manusia, persaudaraan, tanggung jawab, dan keadilan merupakan fondasi yang sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan masa kini.
Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang terus bergerak maju, pendidikan harus tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. Hukum Adat Larvul Ngabal memberikan pelajaran bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga dari kemampuan menghargai sesama manusia dan menjaga harmoni dalam kehidupan bersama. Dengan menjadikan nilai-nilai Hukum Larvul Adat Ngabal sebagai inspirasi, pendidikan dapat melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan mampu membangun masa depan yang lebih beradab dan bermartabat.

