
AMBON Mediasaiber. SMP Negeri 7 Ambon kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu sekolah favorit di Kota Ambon. Keberhasilan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik/TKA pertama di Maluku, tingginya minat penerimaan siswa baru, serta dampak positif Program Makan Bergizi Gratis/MBG menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan peserta didik.
Kepala SMP Negeri 7 Ambon Anthon Anakotta,S.Pd, menyampaikan TKA diikuti 206 siswa dan berlangsung sukses. Meski pengawasan berbasis komputer terasa ketat dan sempat membingungkan sebagian siswa, sosialisasi dan kelas pemantapan yang dilakukan intensif memberi hasil memuaskan. Capaian nilai Bahasa Indonesia banyak mencapai angka 90-an. Sementara kendala masih terlihat pada aspek numerasi, dengan 10–15 persen siswa mengalami kesulitan.
Sekolah juga bersiap membagikan rapor siswa kelas VII dan VIII pada 20 Juni mendatang. Sistem penilaian kini sepenuhnya berbasis online sehingga nilai rapor tidak dapat diubah secara manual.
Proses penerimaan murid baru terus berjalan. Saat ini SMP Negeri 7 Ambon telah menerima sekitar 150 siswa baru melalui jalur online dan 30 siswa melalui jalur manual, termasuk penanganan khusus bagi calon siswa dari luar rayon akibat perpindahan domisili orang tua. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah, seiring harapan dibukanya pendaftaran tahap kedua untuk mengisi kuota sembilan kelas yang tersedia.
Minat masyarakat yang tinggi menjadikan SMP Negeri 7 Ambon kian diminati. Ragam program ekstrakurikuler dan torehan prestasi sekolah menjadi daya tarik tersendiri bagi orang tua.
Untuk mendukung kesejahteraan siswa, sekolah menyediakan dispenser dan galon air minum di setiap kelas. Fasilitas itu berpadu dengan Program MBG dari pemerintah pusat yang membawa dampak signifikan terhadap kehadiran dan keaktifan siswa.
“Hasil pemetaan kami menunjukkan sekitar 70 persen dari 700 siswa berasal dari keluarga yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Selama ini kendala mereka datang ke sekolah adalah tidak ada ongkos transportasi dan datang dengan perut kosong,” ungkap Anthon.
Ia menambahkan, MBG sangat membantu siswa di kawasan timur Indonesia, khususnya Maluku. Masalah siswa mengantuk saat pelajaran karena tidak sempat sarapan kini mulai teratasi. Menu dari dapur MBG di kawasan Poka Ambon dinilai bersih, bergizi, dan bervariasi, mulai dari ayam, tempe, sayur, hingga susu yang dikemas higienis.
“Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan gizi, MBG menghadirkan kebahagiaan dan rasa syukur. Anak-anak jadi lebih semangat belajar dan kehadiran mereka semakin baik. Ini bukti bahwa pemenuhan kebutuhan dasar sangat berpengaruh pada kualitas pembelajaran,” tutup Anthon Anakotta.

