
Gerry Ubra,S.Pd,CPSE
Guru SMA Negeri 1 Tual
Tual Mediasaiber. Pela Gandong merupakan salah satu warisan budaya paling berharga yang dimiliki masyarakat Maluku, khususnya di wilayah Seram dan Kei. Tradisi ini bukan sekadar ikatan sosial biasa, melainkan sebuah sistem nilai yang mengandung makna filosofis mendalam tentang persaudaraan, solidaritas, dan tanggung jawab bersama.
Dalam konteks sejarah dan budaya, nilai-nilai Pela Gandong menemukan refleksi yang kuat dalam kisah perjalanan Raja Amar Dai dari Kei Lilikey menuju O Aru. Perjalanan ini tidak hanya dipahami sebagai perpindahan fisik, tetapi juga sebagai simbol perjalanan batin dan peradaban yang sarat makna.
Secara etimologis, Pela berarti perjanjian atau ikatan, sedangkan Gandong berarti saudara kandung. Maka, Pela Gandong dapat dimaknai sebagai perjanjian persaudaraan yang melampaui batas darah, suku, bahkan agama. Ikatan ini terbentuk melalui sejarah panjang interaksi antar-negeri yang dilandasi oleh pengalaman bersama, baik dalam suka maupun duka.
Dalam praktiknya, Pela Gandong mengajarkan bahwa setiap individu memiliki kewajiban moral untuk menjaga, melindungi, dan membantu “saudaranya” tanpa memandang perbedaan.
Dalam kisah Raja Amar Dai, nilai-nilai Pela Gandong terlihat jelas dalam cara ia memimpin dan menjalin hubungan dengan berbagai komunitas di sepanjang perjalanannya. Raja Amar Dai bukan sekadar pemimpin politik, tetapi juga figur filosofis yang memahami bahwa kekuatan sejati suatu masyarakat terletak pada persatuan dan rasa saling percaya. Perjalanannya dari Kei Lilikey ke O Aru menjadi simbol penyebaran nilai-nilai kemanusiaan yang universal, yang berakar pada kearifan lokal.
Filsafat perjalanan Raja Amar Dai dapat dipahami sebagai perjalanan menuju harmoni. Dalam setiap langkahnya, ia tidak hanya membawa kekuasaan, tetapi juga membawa nilai persaudaraan yang menjadi inti dari Pela Gandong. Ia menyadari bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan peluang untuk memperkaya kehidupan bersama. Dalam konteks ini, Pela Gandong menjadi landasan etis yang menuntun setiap tindakan dan keputusan.
Lebih jauh, Pela Gandong juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Ikatan ini sering kali disertai dengan sumpah adat yang sakral, yang diyakini memiliki konsekuensi moral dan spiritual jika dilanggar. Dalam perjalanan Raja Amar Dai, dimensi ini tercermin dalam sikapnya yang selalu menghormati adat dan tradisi setempat. Ia memahami bahwa keberhasilan suatu perjalanan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi juga oleh keselarasan dengan nilai-nilai spiritual yang hidup dalam masyarakat.
Dalam konteks masyarakat modern, nilai-nilai Pela Gandong menjadi semakin relevan. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, masyarakat sering kali dihadapkan pada tantangan individualisme dan perpecahan sosial. Konflik yang terjadi di berbagai daerah menunjukkan bahwa nilai persaudaraan mulai terkikis oleh kepentingan sempit. Oleh karena itu, menghidupkan kembali semangat Pela Gandong menjadi suatu keharusan.
Kisah Raja Amar Dai memberikan inspirasi bahwa persatuan dapat dibangun melalui dialog, penghormatan, dan komitmen terhadap nilai-nilai bersama. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang dominasi, tetapi tentang kemampuan merangkul perbedaan dan menciptakan harmoni. Dalam hal ini, Pela Gandong bukan hanya tradisi masa lalu, tetapi juga solusi untuk masa depan.
Selain itu, Pela Gandong juga memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya masyarakat Seram dan Kei. Di tengah modernisasi, banyak nilai lokal yang terancam hilang. Namun, Pela Gandong tetap bertahan karena ia bukan hanya tradisi, tetapi juga kebutuhan sosial. Ia menjadi perekat yang menjaga kohesi masyarakat dan mencegah terjadinya disintegrasi sosial.
Perjalanan Raja Amar Dai juga dapat dipahami sebagai metafora perjalanan manusia dalam mencari makna hidup. Setiap individu, seperti halnya Raja Amar Dai, menjalani perjalanan yang penuh tantangan dan pilihan. Dalam perjalanan tersebut, nilai-nilai seperti persaudaraan, kejujuran, dan tanggung jawab menjadi kompas yang menuntun arah. Pela Gandong, dalam hal ini, menjadi simbol dari nilai-nilai tersebut.
Lebih dalam lagi, filosofi ini mengajarkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Keterhubungan antarindividu adalah kodrat yang tidak dapat dihindari. Pela Gandong menegaskan bahwa hubungan tersebut harus dibangun di atas dasar saling menghormati dan saling membantu. Dalam dunia yang semakin kompleks, nilai ini menjadi semakin penting.
Pada akhirnya, pentingnya Pela Gandong dalam filsafat perjalanan Raja Amar Dai terletak pada kemampuannya untuk menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ia mengajarkan bahwa nilai-nilai luhur tidak boleh dilupakan, tetapi harus terus diwariskan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Raja Amar Dai, melalui perjalanannya, telah menunjukkan bahwa kearifan lokal memiliki kekuatan untuk menghadapi tantangan global.
Dengan demikian, Pela Gandong bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga bagian dari identitas dan masa depan masyarakat Maluku. Ia adalah simbol persatuan yang melampaui batas, serta pengingat bahwa dalam setiap perjalanan hidup, manusia membutuhkan satu sama lain. Filosofi ini, jika terus dijaga dan dihidupkan, akan menjadi fondasi yang kokoh bagi terciptanya masyarakat yang harmonis, adil, dan sejahtera.
(Ali Keliwooy,)

